Kelenteng Tjong Hok Kiong, Titik Awal Pemunculan Budaya Tionghoa di Sidoarjo

Di setiap daerah Indonesia, pasti memiliki budaya asli daerah setempat yang sangat beragam. Namun selain itu tidak jarang pula terdapat budaya dari negeri lain yang kemudian menjadi bagian dari budaya lokal daerah tersebut. Contohnya seperti yang ada di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

Di kabupaten ini terdapat sebuah kelenteng kuno bernama Kelenteng Thong Hok Kiong yang merupakan sebuah bangunan kuno dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Kelenteng ini terletak di Jl. Hangtuah, Desa Sidomukti, Kalurahan Sidokumpul, Kecamantan Sidoarjo serta dibangun pada tahun 1863 masehi.

Awal pemunculan budaya Tionghoa

Meski merupakan bangunan lawas bahkan tercatat sebagai kelenteng paling tua di Kabupaten Sidoarjo, cagar budaya ini sampai sekarang masih terawat dengan baik. Bahkan hingga saat ini, setiap hari masih dipakai sebagai tempat ibadah bagi para penganut ajaran Kong Hu Chu yang berasal dari Sidoarjo dan sekitarnya.

Lebih dari itu, dapat dikatakan bahwa Kelenteng Thong Hok Kiong merupakan sebuah titik awal munculnya budaya Tionghoa di Sidoarjo. Kehadiran budaya baru dari negeri China ini tidak pernah menimbulkan masalah di tempat dimana kelenteng tersebut didirikan.

Kelenteng ini sendiri terletak di tengah pemukiman penduduk yang sebagian diantaranya jadi penganut agama Islam. Meski demikian, kehidupan di kawasan terebut tetap harmonis karena tidak pernah ada gesekan-gesekan diantara sesama warga walau ada yang berbeda keyakinan. Mereka sangat menjunjung tinggi toleransi.

Konsep arsitektur bangunan

Sama seperti bangunan kelenteng lainnya, Kelenteng Tjok Hok Kiong menggunakan konsep arsitektur bernuansa oriental pada setiap bagiannya. Bagian depannya dilengkapi oleh gapura besar dan menjulang sangat tinggi.

Kemudian pada kelentengnya, terbagi menjadi dua ruangan utama. Ruang pertama digunakan sebagai tempat sembahyang, sedangkan ruang kedua berfungi untuk ruang kantor dan ruang adminitrasi.

Masuk ke dalam teras ruang sembahyang, para pengunjung akan langsung merasakan aroma dupa yang sangat khas. Dalam teras ini pula terpajang beberapa lilin warna merah segar yang ukurannya sangat besar, setinggi dada orang dewasa. Sebagian ada yang menyala, tetapi ada pula yang dipadamkan.

Dari teras, pengunjung dapat masuk ruang utama namun sebelumnya harus melepas alas kaki atau sepatu dan sandal lebih dulu. Ruang ibadah tersebut didominasi warna merah, hijau dan kuning. Nuansa khas oriental makin terasa di ruang ini terutama pada hiasan interiornya.

Obyek wisata budaya Kelenteng Thjong Hok Kiong dibuka setiap hari dari jam 06:00 hingga 20:00 WIB. Selain jadi tempat untuk menjalani ritual keagamaan, kelenteng ini juga memberi layanan kesehatan secara gratis yang resep pengobatannya memakai resep tradisional China.